Di dunia ini, terdapat jenis pangan yang mengandung gizi tinggi dan kebermanfaatannya dikaitkan sebagai pangan yang menyehatkan tubuh. Apakah kamu pernah menyadari, bahwa paling tidak kamu sudah pernah mengonsumsi beberapa bahan pangan tersebut, yang disebut sebagai pangan fungsional. Dari banyaknya pangan fungsional, terdapat jenis pangan fungsional yang mendapat kategori sebagai superfood. Apa itu superfood?

Superfood atau seperti label yang disematkannya sebagai makanan super merupakan kelompok pangan fungsional yang memiliki nutrisi tinggi dan baik sebagai penunjang pola makan diet dan tujuan kesehatan. Meski begitu, tidak semua pangan fungsional merupakan superfood. Menurut FG Winarno dalam bukunya berjudul “Tanaman Kelor”, terdapat banyak jenis makanan yang uji ilmiahnya mengandung celah dan diragukan sebagai superfood. Sehingga penetapan sebuah bahan pangan untuk dapat dianggap sebagai “superfood” haruslah mendapat dukungan ilmiah yang terpercaya, terbukti dan dapat dipertanggung-jawabkan secara utuh dan resmi.

Trend ini juga merambah pasar di Indonesia, dimana kamu bisa menemukan banyak sekali jenis bahan pangan dengan klaim sebagai superfood dan penunjang diet yang cenderung merujuk pada makanan-makanan eksotis yang namanya terasa edgy seperti : quinoa, acai, goji berry, chia seed, dan sebagainya.

superfood
Photo by Maddi Bazzocco on Unsplash

Alih-alih mengglorifikasi klaim superfood, tidak sedikit ahli yang mengemukakan bahwa pelabelan tersebut terasa berlebihan dan dikencangkan untuk tujuan promosi semata. Dikutip dari School of Public Health Harvard TH Chan, penelitian Mintel yang dilakukan pada 2015 menunjukkan terdapat peningkatan sebesar 36% secara global dalam jumlah makanan dan minuman yang diluncurkan dan diberi label sebagai “superfood,” “superfruit,” atau “supergrain,”. Ini berarti bahwa terdapat keterkaitan klaim makanan super mampu meningkatkan penjualan yang juga super.

Di Eropa, pelabelan superfood sudah dilarang dipergunakan kecuali klaim tersebut telah dapat dibuktikan secara ilmiah dan mampu menjelaskan kepada konsumen mengapa produk tersebut baik untuk kesehatan mereka. Sebab, penggunaan istilah yang terlalu luas bagi label makanan, seperti ‘menyehatkan anda’ atau ‘makanan super’ itu sendiri, menyiratkan manfaat kesehatan. Namun disisi lain tidak mengomunikasikan mengapa makanan itu sehat atau layak disebut superfood.

Meski begitu, bahan bahan pangan yang dilabeli sebagai ‘makanan super’ mengandung nutrisi betul adanya. Hal ini juga berlaku bagi produk pangan lainnya, tidak kecuali pangan-pangan lokal yang sudah lebih dulu familiar sebagai makanan sehari-hari. Masalah yang membuat pelabelan superfood menjadi kontroversi adalah klaim itu sendiri yang mendorong orang memfokuskan diri pada makanan tertentu, alih-alih membuat menu makannya menjadi lebih beragam. Sebab, variasi dalam menu sehari-hari atau kebutuhan diet sangat penting untuk mencegah kita mengonsumsi terlalu banyak atau terlalu sedikit nutrisi tertentu.

Nah, kamu juga bisa memperkaya nutrisi bagi tubuhmu dengan menerapkan gizi seimbang yaitu menyusun asupan sehari-hari yang jenis dan jumlah zat gizinya seimbang dan sesuai kebutuhan, serta memperkaya diri dengan pengetahuan dari bahan pangan yang kamu konsumsi. Semangat!

Ikuti artikel-artikel tentang pangan dan resep di rubrik ini.

sumber referensi:
– Prof Dr FG Winarno dalam buku “Tanaman Kelor”
BBC UK dalam artikel berjudul “Superfood ‘ban’ comes into effect”
– Harvard TH CHAN, School of public health dalam artikel “Superfoods or Superhype?
– Majalah Tempo dalam artikel berjudul “Superfood tak semuanya super”


Ditulis oleh: Aliyah Rizky
(Penulis tetap di urbantani.id)


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *