Kondisi kenormalan baru (new normal) memunculkan kebiasaan baru yang dilakukan oleh masyarakat, dari mulai mengurangi interaksi di tempat umum hingga menjalankan protokol kesehatan. Hal ini, dikhawatirkan akan mempengaruhi produktivitas pada setiap sektor.

Tak terkecuali di sektor pertanian yang terkena dampaknya, salah satunya kegiatan penyuluhan kepada petani. Pemerintah melalui petugas penyuluh merupakan aktor utama, agar petani dapat menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi untuk dapat meningkatkan taraf hidup.

Semetara alih informasi teknologi harus tetap dilakukan, guna menunjang keilmuan agar produksi menjadi maksimal. Dikutip dari pertanian.go.id Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mendorong petani untuk menggenjot produksi saat pandemi, agar terhindar dari krisis pangan. “Tanpa pangan bisa terjadi kelaparan dan menurunkan imunitas itu jauh lebih berbahaya,” ungkapnya.

Jauh sebelum era new normal, masalah penyuluhan petani terjadi pada terbatasnya jumlah SDM. Data Kementan pada 2018 jumlah penyuluh hanya sebanyak 67.518 orang, tidak sebanding dengan jumlah desa/kelurahan di Indonesia sebanyak 83,447 yang harus diisi satu penyuluh setiap desa, sejalan dengan UUD nomor 19 tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani.

Momentum saat ini harus dimanfaatkan oleh Kementerian Pertanian, untuk mengomandoi ‘digitalisasi’ penyuluh pertanian melalui audio visual. Memindahkan materi hasil riset ke dalam bentuk audio visual, sehingga dapat memangkas jalan panjang penyebaran teknologi, sebagai pengganti penyuluh di lapangan untuk mempercepat proses difusi informasi.

Melansir dari jurnal Jurnal Agro Ekonomi IPB 2007, mengenai penyuluhan menggunakan video dengan penilaian post-pre test menunjukan nilai yang tinggi pengetahuan petani tentang pupuk Agrodyke. Selain itu, cara agar informasi lebih mudah dipahami dapat dikemas dengan unsur kedaerahan. Dilansir dari Jurnal Penelitian Faperta Unsoed 2016, metode penyuluhan video menggunakan bahasa Jawa Banyumas dapat mempermudah petani memahami tata cara yang dilakukan dalam pembuatan pupuk.

Gudang informasi seperti Kementan, universitas, dan swasta harus memasifkan penyampaian teknologi riset terbarunya dengan memanfaatkan media audio visual. Bukan hasil riset yang berakhir dalam bentuk jurnal atau text book yang susah diakses dan dimanfaatkan oleh masyarakat.

Dalam sebuah riset, publikasi melalui audio visual harus menjadi satu-kesatuan. Sehingga ada jaminan teknologi baru dapat dinikmati oleh pelaku usaha pertanian dengan cepat dan mudah dipahami.

Dok : Humas Kementan

‘Proses Adopsi Teknologi’

Konten informasi mulai dari teknik budidaya, pengenalan benih unggul, penanganan hama dan penyakit, pengenalan teknologi, pengolahan pasca panen hingga kegiatan awal produksi. Hal tersebut, yang dibutuhkan oleh pelaku pertanian. Informasi menjadi mudah diperoleh dan dipahami jika menggunakan perantara video sebagai penyampai pesan.

Proses adopsi teknologi pertanian hingga petani menerapkanya memiliki beberapa tahapan, pada tahap kesadaran ketahap minat tentang adanya inovasi, diutamakan metode yang bersifat informatif dan entertainment. Sedangkan tahap menilai sampai menerapkan, informasi harus bersifat persuasif.

Secara praktis, hal-hal tersebut dapat dilakukan dengan cara konsolidasi melalui organisasi tani. Kelompok tani pada dasarnya sebagai pelaku utama pembangunan di pedesaan, peran ketua kelompok atau anggota yang sudah berpengalaman dapat berfungsi sebagai pihak yang melakukan komunikasi dua arah menyebarkan informasi lebih lanjut mengenai materi yang dibahas dari konten video penyuluhan.


audio visual

Ditulis oleh: Mardi Rahmat
(Penulis tetap di urbantani.id)


Baca opini dan surat pembaca lain disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *