Belum lama ini saya menonton film dokumenter Negeri di Bawah Kabut (2011). Disutradarai Shalahuddin Siregar, ada banyak dimensi yang ditawarkan film ini seputar masyarakat yang sehari-harinya hidup dari bertani.

Bagaimana mereka menghadapi gagal panen, yang akibatnya mengancam kestabilan hidup hingga panen berikutnya. Lalu soal perubahan cuaca yang tidak lagi sama menurut perhitungan kalender Jawa, juga harga jual hasil panen yang murah, jalan desa yang rusak, hingga infrastruktur yang tidak rata.

Dimensi lainnya ditampilkan lewat anak-anak dengan konflik yang berbeda: soal melanjutkan pendidikan. Walau biaya sekolah negeri gratis, tapi untuk ongkos dan seragam tetap saja butuh uang. Mencari pinjaman dan hutang ke tetangga pun sulit, karena sama-sama pas-pasan. Ada juga yang terpaksa tidak lanjut karena dinikahkan oleh orangtuanya selepas lulus sekolah dasar, dan kesulitan ini bukan tidak mungkin dialami anak-anak yang berprestasi.

Negeri di bawah kabut
Cuplikan film Negeri Di Bawah Kabut

Berlatar desa di pegunungan Merbabu, percakapan sehari-hari para tokoh yang diantarkan dalam bahasa daerah membuat film ini begitu intim. Orang-orang di dalamnya seperti perwujudan warga di kampung saya di Kroya. Interaksi antar pedagang di pasar, suasananya khas dengan karung-karung sayuran dan ibu-ibu yang menghidupinya. Bahkan budaya pesantren sebagai pendidikan alternatif yang juga banyak dijalani saudara saya sedikit-banyak ikut menambah keintiman film ini.

Keintiman lain yang begitu terasa dihadirkan lewat tungku kayu bakar. Bukan hanya sebagai kompor dan sumber kegiatan rumah tangga, tapi sekaligus penghangat ruangan di rumah. Banyak interaksi berpusat di tungku ini, mulai dari memotong kuku anak sampai menghitung pengeluaran hasil panen.

Seorang kawan menyayangkan film ini yang hanya diputar secara gratisan lewat kanal YouTube. Saya yang berpikiran pendek, senang-senang saja karena tidak perlu membayar biaya langganan untuk menontonnya.

Cuplikan film Negeri Di Bawah Kabut

Ini film dokumenter yang sangat intim dan jujur, juga sederhana. Namun kaya dengan banyaknya isu yang diangkat.

Konflik disajikan secara ringan dan halus lewat tutur tokoh di dalamnya. Pendapatan hasil panen yang tidak seberapa, harus pintar-pintar diputar untuk biaya bibit, pupuk, pestisida, makan sehari-hari, dan cicilan hutang. Padahal belum tentu hasil panen berikutnya cukup untuk menambal tanggungan sebelumnya. Tambahan lagi untuk sewa lahan, karena meski bertani tapi tidak semua menggarap lahan sendiri.

Walau begitu, sesama warga tetap saling membantu dan mengerti dengan kondisi masing-masing yang sama-sama sulit. Para tokoh di dalamnya tetap menjalani hidup dengan ‘enteng-enteng’ saja dan beraktivitas seperti biasa. Bahagia, sederhana.

Film ini (Negeri di Bawah Kabut) sangat layak ditonton, tentang kehidupan saudara dan keluarga kita yang berprofesi sebagai petani, di negara yang katanya agraris.


Artikel ini kiriman dari: Yaumil Khoiriyah
(Perancang produk digital, senang berinteraksi di IG: @k.yaumil)


Baca tulisan lainnya di rubrik opini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *