photo by Jens Johnsson via unsplash

Beberapa waktu lalu, erupsi terjadi lagi di Gunung Merapi yang merupakan gunung berapi teraktif di Indonesia. Sejak ribuan tahun merapi telah aktif mengalami letusan awan panas, serta aktivitas tektonik. Di Indonesia, terdapat sekitar 129 gunung api yang aktif. Setiap kali gunung api meletus akan menghasilkan muntahan berupa gas vulkanik, lava dan aliran pasir serta batu panas, lahar, abu letusan dan awan panas yang kerap disertai tanah longsor dan gempa bumi. Tapi tahukah kamu, bahwa dampak letusan gunung berapi juga memiliki sisi positif bagi kesuburan lahan pertanian?

Abu vulkanik yang dihasilkan dari letusan gunung atau juga disebut dengan Tepra mengandung mineral dan batuan dengan unsur hara seperti sulfat, klorida, natrium, kalsium, Mg serta fluoride. Unsur-unsur tersebut dalam bentuk oksida (SiO2, Al2O3) terkena hujan maka akan berubah menjadi hidroksida.Tepra akan mengalami proses sementasi dan mengeras saat jatuh ke daratan, menyebabkan porositas dan permeabilitas menurun. Akibatnya, tanah sulit untuk ditembus air. Di sisi lain, kondisi ini dengan berjalannya waktu serta proses pelapukan kimia dan biologi secara alami dapat meningkatkan kesuburan tanah karena adanya unsur hara yang diperbarui seperti Ca, Mg, Na, K dan P.

Jenis tanah yang berada di sekitar gunung berapi juga memiliki tingkat kesuburan yang berbeda-beda. Menurut Badan Litbang Pertanian, di Gunung Merapi misalnya terdapat 3 jenis tanah yakni Andisols, Inceptisols dan Entisols. Andisols mengandung banyak sekali bahan organik yang membuat kesuburan tanahnya tergolong baik. Tanah Andisols dapat ditemukan di ketinggian >700 m dpl atau lereng tengah gunung api bagian atas. Berbeda dengan Andisols, pada tanah jenis Insepticols telah mengalami pelapukan lebih lanjut, sehingga kesuburannya menjadi lebih rendah di banding Andisols. Pada jenis tanah Entisols tanah-tanahnya terbentuk dari bahan baru, relatif kasar (berpasir) dan kesuburannya relatif lebih rendah.

erupsi
photo by Eugenia Clara via unsplash

Meski begitu, karena beberapa dampak negatif juga muncul akibat erupsi, seperti:

  • Hilangnya beberapa plasma nutfah dan berubahnya biodiversitas tumbuhan
  • Hilangnya daerah tangkapan air, rusaknya hutan, dan bahkan tertutupnya sumber air, serta hilangnya saluran-saluran air
  • Kerusakan lahan dan bahaya akibat banjir lahan dingin
  • Terkuburnya tanah dan terhambatnya pembentukan tanah akibat erupsi yang berulang-ulang
  • Hilangnya jalan-jalan akses ke lahan pertanian dan hilangnya batas-batas kepemilikan lahan
  • Kebutuhan teknologi untuk pemanfaatan lahan pertanian baru pasca erupsi

maka daerah terdampak letusan gunung berapi perlu dilakuan upaya rehabilitasi untuk perbaikan atau memperbaharui ekosistem.

Rehabilitasi lahan pertanian pasca erupsi gunung berapi dilakukan dengan berbagai pertimbangan untuk menghindari konflik agraria, juga melakukan perbaikan pemanfaatan lahan dengan mengetahui secara spesifik ketebalan abu, sifat endapan dan jenis komoditas. Rehabilitasi juga mencakup re-evalusi usaha tani yang potensial, pengelolaan lahan, perbaikan status hara tanah, pemberian bahan organik dan pengolahan tanah.

Menurut Sutomo, seorang ekologi vegetasi dalam tulisannya di The Conversation, ekosistem memiliki elastisitas dan mampu memperbaiki sendiri kondisi pasca mengalami gangguan alam. Lamanya keberhasilan proses ini, bergantung pada seberapa besar luas wilayah yang terdampak serta faktor ada tidaknya warisan biologi dan ikut campur tangan manusia untuk mempercepat proses perbaikan ekosistem.

Referensi:
– Rahayu, Ariyanto DP, Komariah, Hartati S, Syamsiah J, Dewi WS. 2104. Dampak erupsi gunung merapi terhadap lahan dan upaya-upaya pemulihannya. Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian 29(1)
– Badan Litbang Pertanian. 2012. Laporan Hasil Kajian Cepat (Quick Assessment) Dampak Erupsi Gunung Merapi 2010 terhadap Sumberdaya Lahan Pertanian dan Inovasi Rehabilitasinya. November 2012
– Sutomo dalam artikel berjudul Dampak erupsi gunung berapi terhadap vegetasi dan ekosistem di The Conversation
– Photo b Jens Johnsson via unsplash


Ditulis oleh: Aliyah Rizky
(Penulis tetap di urbantani.id)


Baca info lainnya di rubrik Tani Daily

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *