Jamur Enoki Listeria

Pada 2015 berita pangan digemparkan oleh temuan bakteri listeria yang terdapat pada buah apel asal Amerika Serikat. Dua tahun lalu, kehebohan serupa juga terjadi di Australia lantaran terdapat buah rock melon yang telah tercemar bakteri yang sama. Sejumlah orang dikabarkan meninggal akibat penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri atau yang disebut dengan listeorisis ini. Belakangan, kasus serupa terjadi di Amerika dan megakibatkan terjadinya wabah listeria. Namun, infeksi listeria kali ini bersumber dari konsumsi jamur enoki. Mengapa bakteri listeria kerap kali ditemukan di bahan pangan ?

Cemaran listeria terhadap bahan pangan bukan kali ini terjadi, menurut (NCBI / National Center for Biotechnology Information), tercatat sekitar 2600 kasus keracunan pangan per tahun yang disebabkan oleh Listeria terjadi di dunia. Sementara itu, pada laman resmi Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), setidaknya setiap tahun sejak 2011 AS telah mengalami kejadian luar biasa (KLB) yang disebabkan bahan pangan yang terkontaminasi listeria, diantaranya produk telur, daging, keju, susu, hingga yang terakhir adalah jamur enoki. Diketahui bahwa sebanyak 36 orang menjadi korban pada kasus jamur enoki, 4 diantaranya meninggal dunia.

Listeria monocytogenes merupakan bakteri yang menjadi salah satu agen “food-borne disease”, yaitu penyakit yang disebabkan oleh masuknya mikroorgansme patogen ke dalam tubuh melalui makanan. Penyakitnya disebut dengan listeriosis. Bakteri ini dapat tumbuh dengan atau tanpa adanya oksigen. Karakteristik bakteri ini sangat kuat terhadap panas, asam dan garam serta tahan terhadap pembekuan sehingga masih dapat berkembang di suhu dingin (suhu 4-10 derajat celcius).

enoki listeria
sumber: gettyimages

Bagaimana Cara Listeria Masuk Ke Dalam Tubuh?

Listeria dapat ditemukan di tanah, air, serta pakan ternak yang terbuat dari daun-daunan hasil fermentasi. Sayuran mentah dapat terkontaminasi bakteri listeria baik melalui kontak dengan tanah, atau kotoran hewan yang dipakai sebagai pupuk. Sedangkan hewan dapat terkontaminasi bakteri dari habitatnya maupun makanan yang dikonsumsi. Hewan bisa membawa bakteri tanpa terlihat sakit. Karenanya, sangat sulit untuk melihat apakah bahan makanan baik sayuran maupun sumber hewani yang dikonsumsi manusia mengandung bakteri jika dilihat secara empiris.

Orang-orang dengan daya tahan tubuh yang lemah, bayi, wanita hamil, serta lansia merupakan kelompok yang rentan mengalami infeksi bakteri ini. Listeriosis dapat menyebabkan gejala yang berbeda, tergantung pada orang tersebut. Pada orang normal umumnya mengalami gejala ringan seperti influenza yakni demam, menggigil, nyeri punggung, sakit kepala terkadang disertai mual muntah dan diare.

Pada kasus yang lebih berat, dapat mengalami septisemia dan menigitis, gejalanya seperti sakit kepala parah, kebingungan, kaku leher, kehilangan keseimbangan, kejang, tremor. Sementara pada ibu hamil mengalami gejala mirip flu, seperti kelelahan dan nyeri otot, namun dapat menyebabkan keguguran, bayi meninggal dalam kandungan atau kelahiran prematur. Waktu yang dibutuhkan bakteri untuk menimbulkan gejala penyakit listeriosis (masa inkubasi) antara 2 hingga 70 hari.

Lantaran bakteri listeria sering ditemukan pada produk pangan, maka penerapan Good Manufacturing Practice (GMP) merupakan hal yang wajib dilakukan untuk setiap proses pengolahan pangan. Aprilia Fitriani, seorang food scientist yang juga dosen teknologi pangan di Universitas Surya menambahkan pada kasus-kasus seperti ini, selain GMP, untuk melaksanakan prinsip keamanan pangan juga diperlukan penerapan HACCP yaitu Analisis bahaya dan pengendalian titik kritis. Makanan/minuman sebaiknya diolah dengan baik sebelum disantap. Makanan yang dikonsumsi tidak matang/kurang matang dapat meningkatkan kemungkinan kontaminasi bakteri.

Berikut merupakan langkah-langkah yang dapat anda lakukan untuk mengantisipasi adanya kontaminasi bakteri listeria pada produk makanan/minuman.

1. Pada kasus jamur Enoki yang berpeluang tercemar listeria, FDA merekomendasikan pengolah makanan, restoran, dan pengecer, harus waspada dalam membersihkan setiap permukaan dan wadah yang mungkin bersentuhan dengan produk ini

2. Cuci dan bersihkan semua permukaan wadah maupun tempat penyimpanan produk (bersihkan lemari es anda secara berkala)

3. Masak makanan sebelum dikonsumsi karena bakteri ini mati pada pemanasan suhu 75 derajat celcius, terutama daging dan juga termasuk produk susu segar

4. Bilas bahan mentah dengan air mengalir, seperti buah-buahan dan sayuran, sebelum dimakan, dipotong, atau dimasak bahkan jika sudah dikupas

5. Mencuci produk hasil pertanian sebelum disimpan kemudian keringkan

6. Pisahkan daging mentah/unggas dari sayuran, makanan matang dan makanan siap saji

7. Cuci peralatan sebelum memasak

8. Cuci tangan menggunakan sabun sebelum dan sesudah proses memasak

Referensi:
CDC United States
– NCBI
BPOM
Direct interview
– Photos from getty images


Ditulis oleh: Aliyah Rizky
(Penulis tetap di urbantani.id)


Baca juga:

Kementan Musnahkan Jamur Enoki yang Terkontaminasi Listeria

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *