Perusahaan IT Garap Kebun Hidroponik Tertinggi di Indonesia: Canggih Pakai IoT, Panen 2 Ton Sayur Sebulan
Hidroponik vertikal Jakarta kini mencatatkan rekor baru lewat hadirnya fasilitas pertanian perkotaan milik Ladang Farm yang menjadi struktur tertinggi di Indonesia. Berlokasi di kawasan Jakarta Selatan, inovasi ini menjadi angin segar bagi masa depan pertanian urban di tengah keterbatasan lahan ibu kota. Pemanfaatan ruang secara efisien yang dipadukan dengan otomatisasi mutakhir membuktikan bahwa produksi pangan berskala besar dapat dilakukan di pusat kota.
Struktur hidroponik vertikal Jakarta setinggi 18 meter rekor tertinggi di Indonesia
Fasilitas pertanian dalam ruangan ini dirancang menjulang setinggi 18 meter, menjadikannya sebagai fasilitas vertical garden tertinggi di tanah air saat ini. Pencapaian ini menegaskan komitmen Ladang Farm dalam memaksimalkan pemanfaatan ruang vertikal secara optimal demi menjaga efisiensi lahan.
“Di Ladang Farm ini baru pertama kali pertanian yang menggunakan struktur vertical farming yang tertinggi di Indonesia dengan ketinggian delapan belas meter,” ujar Nova Riswanto, General Manager Ladang Farm.
Struktur raksasa tersebut memuat hingga 13 tingkat media tanam yang disusun secara presisi dari lantai dasar hingga bagian atas gedung. Dengan pendekatan sistemik ini, kapasitas produksi tanaman dapat meningkat berlipat ganda dibanding metode bercocok tanam konvensional.
Penerapan teknologi hidroponik berbasis Internet of Things (IoT)
Keunggulan dari operasional hidroponik vertikal Jakarta berorientasi masa depan ini terletak pada penggunaan teknologi hidroponik berbasis Internet of Things (IoT). Latar belakang pendiri yang memiliki keahlian di bidang teknik serta pemrosesan perangkat lunak menjadi kunci utama dalam merancang sistem kontrol otomatis tersebut.
“Mempunyai background engineer atau software, kenapa kita membuat Ladang Farm atau pertanian, awal mula kita pengen fokusnya di teknologi di bidang pertanian. Contohnya seperti IoT,” ungkap Nova Riswanto.
Sistem IoT ini memantau berbagai variabel vital tanaman secara real-time untuk memastikan hasil panen tetap optimal. Beberapa parameter utama yang dipantau secara otomatis meliputi:
- Pengecekan konsentrasi nutrisi (PPM): Memastikan tingkat kepekatan pupuk cair sesuai dengan kebutuhan tanaman.
- Pengukuran derajat keasaman (pH): Menjaga kestabilan kualitas air penyiraman agar penyerapan nutrisi berjalan sempurna.
- Penyelarasan suhu & temperatur: Mengontrol iklim mikro di dalam greenhouse agar selalu ideal bagi pertumbuhan sayuran.
- Monitoring sistem operasional: Memastikan kestabilan kinerja pompa air serta lampu pencahayaan buatan (grow lights) tanpa henti.
Kapasitas produksi dan varietas tanaman komersial
Skala produksi yang dihadirkan oleh sistem hidroponik vertical ini terbukti sangat impresif. Ladang Farm mengelola sekitar 33.000 lubang tanam yang mampu berproduksi secara konsisten sepanjang tahun.
“Kalau di Ladang Farm ini total itu ada tiga puluh tiga ribu lubang tanam dan itu menghasilkan kurang lebih itu dua ton dalam sebulan,” jelas Nova Riswanto.
Fasilitas ini memfokuskan budidaya pada lima jenis tanaman herbal dan sayuran segar:
- Thai Basil (Produk best seller)
- Italian Basil (Produk best seller)
- Kale
- Selada
- Mint
Permintaan pasar terhadap Thai basil dan Italian basil tercatat sangat tinggi di kalangan industri kuliner Jakarta. Kehadiran hidroponik Jakarta berbasis teknologi ini menjamin ketersediaan pasokan yang stabil, higienis, serta ramah lingkungan.
Masa depan ketahanan pangan melalui konsep vertical garden
Penerapan vertical garden berskala industri ini membuktikan bahwa efisiensi lahan dapat dicapai tanpa mengorbankan kuantitas panen. Dengan kontrol lingkungan yang terukur, risiko kegagalan akibat cuaca ekstrem dapat ditekan secara signifikan.
Langkah inovatif ini membuka era baru bagi perkembangan hidroponik di kawasan metropolitan. Integrasi antara rekayasa teknologi dan pertanian presisi diharapkan menjadi solusi nyata dalam mewujudkan ketahanan pangan perkotaan yang berkelanjutan.