Kisah Sugiarto Budiono Bangun Jakarta Koi Centre: Berburu Langsung ke Jepang hingga Strategi Merawat Ikan Koi Juara
Memelihara ikan koi bukan sekadar hobi visual biasa, melainkan seni perawatan air dan strategi investasi yang menjanjikan. Bagi kalangan pencinta hiasan kolam, memburu ikan koi jepang asli yang memiliki silsilah unggul merupakan kepuasan tersendiri. Bisnis yang digerakkan oleh kecintaan mendalam ini terbukti mampu memutar roda ekonomi hingga bernilai ratusan juta rupiah per bulan.
Awal Mula Kegemaran Menjadi Peluang Bisnis Raksasa
Langkah awal pendirian Jakarta Koi Center sejatinya bermula dari ketidaksengajaan sang pemilik pada pertengahan era sembilan puluhan. Sugiarto Budiono mulai merintis hobi memelihara ikan hias ini langsung dari halaman rumah pribadinya pada tahun 1995. Keputusannya memasang iklan baris di media cetak lokal ternyata menjadi titik balik utama perjalanan bisnisnya.
“Tahun 1995 saya memulai pelihara ikan koi di rumah. Kemudian tahun 1998 itu saya merasa kolam sudah terlalu banyak. Kita coba membuka iklan di waktu itu masih Koran Suara Pembaruan. Kita tulis iklan untuk hewan jual beli. Eh, ternyata ada yang datang,” ungkap Sugiarto Budiono.
Daya tarik utama dari ikan koi import jepang memang terletak pada proporsi tubuh serta intensitas warnanya yang sangat khas. Seiring tingginya permintaan pasar lokal, perburuan spesimen berkualitas tinggi langsung ke tempat asalnya menjadi pilihan mutlak. Penerbangan rutin ke Negeri Sakura pun dijadwalkan secara berkala demi menyaring indukan ikan koi besar yang berpotensi memenangkan kompetisi pameran.
Perbedaan kualitas antara memesan jarak jauh dan memilih langsung di farm Jepang sangat terasa pada hasil akhirnya. Pembelian dalam jumlah besar, seperti ratusan ekor dari Ogata Koi Farm, dilakukan untuk menekan biaya logistik pengiriman antarnegara. Pola distribusi ini memastikan ketersediaan pasokan ikan koi jepang jumbo tetap terjaga bagi para kolektor Tanah Air.
Nilai transaksi dari spesimen berkualitas tinggi ini sangat dinamis mengikuti perkembangan kondisi warna dan bentuk tubuh sang ikan. Tak heran jika varietas unggul sering dikategorikan sebagai ikan koi termahal karena proses seleksi ketat dari para breeder profesional. Omzet bulanan yang diraih pun bisa menyentuh angka ratusan juta rupiah saat pasar dalam negeri sedang sangat bergairah.
“Mulai 2006, 2007 saya mulai berangkat ke Jepang sendiri untuk memilih. Karena beda sekali kita order dengan kita datang itu sangat beda sekali. Kalau saya import itu biasanya kalau dari Ogata paling dikit lima ratus ekor. Karena apa? Kita kalau ngirim ke sedikit biayanya mahal. Sekarang cuma yang dua puluh juta paling. Ee, kalau transaksi bulanan kalau lagi bagus ya bisa sampai mencapai seratus,” ujar Sugiarto Budiono.
Kesalahan Membangun Kolam dan Rahasia Air Ideal
Banyak penghobi pemula melakukan kesalahan fatal saat merancang media tumbuh bagi ikan koi jepang kesayangan mereka. Pemilihan material seperti keramik atau marmer di dalam kolam justru mengganggu kestabilan ekosistem alami yang dibutuhkan ikan. Kebersihan permukaan dinding yang terlalu disikat bersih malah membuang lapisan lumut bermanfaat bagi kualitas air secara keseluruhan.
Menciptakan lingkungan hidup yang ramah ekosistem jauh lebih penting daripada sekadar memamerkan estetika material bangunan kolam. Lumut alami berfungsi mempertahankan kejernihan air sekaligus menjadi penyeimbang parameter kimia di dalam media pemeliharaan. Kunci keberhasilan memelihara spesimen kelas dunia terletak pada konsistensi pengelolaan air, bukan pada kemewahan dekorasi buatan.

Ekosistem air yang matang akan membantu perkembangan fisik ikan secara optimal hingga mencapai ukuran maksimalnya. Perawatan yang selaras dengan alam menjadi pembeda utama antara kolam biasa dan tempat pembesaran spesimen unggulan. Kedisiplinan dalam menjaga kualitas air ini nantinya melahirkan ikan koi juara yang siap bersaing di arena kontes nasional maupun internasional.
“Tapi kalau di kolam ndak usah. Itu lumut jadi makin sempurna, airnya makin bagus. Jangan lumutnya digosok-gosok, itu salah. Jadi ada orang yang bikin kolam pakai marmer dalamnya atau pakai keramik cakep, ya salah. Dia mau nunjukin keramiknya,” jelas Sugiarto Budiono.
Konsistensi Pameran dan Lahirnya Event Nusatic
Edukasi publik mengenai standar kualitas ikan koi terus digencarkan melalui gelaran pameran bertaraf nasional secara berkala. Belajar dari kedisiplinan industri hias di Jepang, konsistensi penyelenggaraan lomba menjadi kunci utama berkembangnya komunitas pencinta ikan hias. Meskipun diterpa berbagai kendala global, ajang silaturahmi para hobiis di Jepang tidak pernah terhenti.
Pengalaman berharga dari mancanegara tersebut kemudian diadaptasi untuk menyatukan seluruh elemen komunitas ikan hias di Indonesia. Langkah berani menggabungkan berbagai kelompok hobiis berhasil menciptakan sinergi baru dalam dunia perikanan hias nasional. Inisiatif besar ini melahirkan pameran berskala internasional yang diakui secara luas oleh penggiat industri global.
Melalui wadah Nusatic yang digagas sejak tahun 2016, sembilan komunitas besar berhasil dihimpun dalam satu ajang kompetisi megah. Ajang tahunan ini tidak hanya mengangkat derajat para peternak lokal, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia di kancah perikanan hias dunia. Semangat fokus dan konsistensi menjadi pilar utama dalam membangun ekosistem bisnis ikan hias yang berkelanjutan.
Perjalanan panjang membangun Jakarta Koi Center memberikan pelajaran berharga bahwa ketekunan hobi dapat menjelma menjadi industri yang bernilai tinggi. Dedikasi dalam menghadirkan ikan koi jepang asli serta komitmen mengedukasi masyarakat terbukti mampu menggerakkan pasar perikanan hias secara masif.