SubscribeChannel YouTube UrbantaniSelengkapnya
38°C
21/05/2026
Sosok & Komunitas

Petani Muda di Semarang Sukses Bertani Selada Belanda Berawal dari Berani Tolak Tawaran Kerja di Jepang

  • February 2, 2026
  • 4 min read
Petani Muda di Semarang Sukses Bertani Selada Belanda Berawal dari Berani Tolak Tawaran Kerja di Jepang

Kisah perjalanan Arif Aditya Nur Pratama sebagai petani muda sukses dimulai ketika ia berani melepas kesempatan emas kerja di Jepang demi membangun kemandirian ekonomi melalui sektor pertanian modern. Pemuda asal Semarang ini awalnya merupakan pekerja migran yang telah menyelesaikan kontrak kerjanya di Negeri Sakura pada akhir tahun 2019. Meskipun ia sempat memiliki keinginan kuat untuk kembali mengadu nasib lewat lowongan kerja di Jepang.

Pandemi COVID-19 yang melanda dunia pada tahun 2020 membuat rencana keberangkatan Arif menjadi tidak menentu karena penutupan akses internasional. Nah, di tengah masa menganggur tersebut, ia mulai mencoba mengisi waktu luang dengan mempelajari teknik hidroponik sederhana di rumahnya. Sebagai seorang hidroponik pemula, Arif mulai merakit instalasi kecil-kecilan secara otodidak sembari menunggu kepastian dokumen visanya yang terhambat.

Tonton video selengkapnya:

Arif menceritakan awal mula perjuangannya dengan sangat detail saat ditemui di kebunnya. “Jadi awalnya itu kan waktu saya kerja di Jepang memang udah selesai kontrak… pulangnya itu sambil jalan ya sambil selesai kontrak itu kan saya ngurus-ngurus dokumen… sambil jalan hidroponik juga nyoba-nyoba yang dari instalasi kecil itu tadi,” kenangnya. Kebun yang ia beri nama Sequence Hydrofarm tersebut berlokasi di Jl Kedondong Dalam II, Lamper Tengah, Semarang.

Strategi Cuan Selada Belanda Hidroponik Menggunakan Sistem Hidroponik NFT

Berawal dari instalasi kecil, Arif akhirnya memantapkan hati untuk terjun sepenuhnya menjadi petani modern di tengah kota. Ia melihat adanya peluang pasar yang sangat besar pada komoditas selada belanda yang memiliki tekstur renyah dan kualitas premium. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, Arif menerapkan sistem hidroponik NFT (Nutrient Film Technique) yang memastikan aliran nutrisi ke akar tanaman berjalan secara stabil selama 24 jam.

Keputusan Arif untuk berhenti mengejar kontrak luar negeri didasari oleh visi jangka panjang yang sangat matang. “Itu ternyata waktu 2020 covid… udah gak jelas mau berangkat ke Jepangnya gak jelas akhirnya ya terjun langsung sekalian karena nganggur juga kan di rumah aja langsung terjun sekalian ke hidroponik ini,” tutur Arif. Menurutnya, transisi dari pekerja menjadi pengusaha adalah tantangan mental yang harus dihadapi oleh banyak anak muda saat ini.

Menariknya, pengelolaan kebun hidroponik selada milik Arif ini ternyata sangat efisien dan tidak menyita banyak waktu. Arif mengaku hanya membutuhkan waktu sekitar 4 jam per hari untuk melakukan perawatan rutin dan pengawasan kebun. Dengan waktu kerja yang singkat tersebut, ia tetap mampu menjaga kualitas selada hidroonik miliknya agar tetap sesuai dengan standar kebutuhan restoran-restoran besar.

Arif juga menekankan bahwa penentuan langkah setelah kembali ke tanah air adalah hal yang paling krusial bagi para pekerja migran. “Soalnya yang susah itu waktu pulang dari Jepang kita mau ngapainnya itu yang susah,” jelasnya mengenai fenomena banyak mantan pekerja luar negeri yang justru kebingungan mencari sumber penghasilan baru. Fokusnya pada budidaya selada belanda hidoonik terbukti menjadi solusi yang tepat untuk meraih kemandirian finansial tanpa harus merantau lagi.

Dari sisi ekonomi, angka yang dihasilkan dari lahan terbatas seluas 100 meter persegi ini sangat menjanjikan. Dengan biaya operasional bulanan hanya Rp1.500.000 untuk kebutuhan bibit, pupuk, dan listrik, Arif bisa memanen sekitar 10 kg selada setiap hari. Jika dikalikan dalam sebulan, total panen mencapai 300 kg yang menghasilkan omset kotor sekitar Rp7.500.000 dengan harga jual Rp25.000 per kg.

Kebun Sequence Hydrofarm

Masalah pemasaran pun bukan lagi menjadi hambatan besar karena permintaan pasar yang terus melonjak tajam. “Kalau masalah pemasaran yang sekarang itu justru bukan karena apa ya… karena pasarnya itu kan mereka banyak mintanya apalagi restoran apa barbecue all you can eat kayak gitu itu kan banyak pakai selada,” ungkap Arif dengan penuh percaya diri. Hal ini membuktikan bahwa sayuran premium hasil teknik non-tanah jauh lebih diminati daripada selada air biasa.

Meskipun pada tahun 2022 pandemi mereda dan tawaran kerja luar negeri kembali berdatangan, Arif memilih untuk tetap menetap di Semarang. Ia merasa potensi menjadi petani muda sukses di negeri sendiri jauh lebih membanggakan daripada harus bekerja di pabrik orang lain. Dedikasi Arif membuktikan bahwa inovasi di bidang pertanian adalah kunci sukses bagi generasi muda untuk bersaing di era modern saat ini.

Sequence Hydrofarm
About Author

Urbantani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *